Tampilkan postingan dengan label human stories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label human stories. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Januari 2010

MARGA SILALAHI DI TOLPING DAN PANGURURAN , SAMOSIR

Sebagaimana yang terangkum dari berbagai sumber di Silalahi Nabolak, keberadaan marga Silalahi yang tinggal di Tolping dan Pangururan berasa dari : 
  1. SIRAJA TOLPING, adalah keturunan Partada anak Debangraja (Ompu Sinabang) dari Pangururan.
  2. SIBURSOK RAJA , adalah anak Debangraja dari Silalahi Nabolak yang menamai dirinya Ompu Sinabang atau kemudian bernama Ompu Lahi Sabungan, yang dimakamkan di Pangururan.
  3. SIRAJA BUNGA-BUNGA atau RAJA PARMAHAN marga SILALAHI , adalah keturunan Sondiraja dari Silalahi Nabolak
Perlu ditambahkan bahwa menurut kebiasaan atau adat di Samosir, semua marga Silalahi selalu mengakui “ Bona Ni Pasogit “ Silalahi Nabolak. Hal ini membuktikan bahwa semua marga Silalahi yang tinggal di Pangururan atau Tolping juga berasal dari Silalahi Nabolak.

KEDUDUKAN MARGA SILALAHI DI BIUS PANGURURAN
Partano Golat atau penguasa / pemilik tanah adat Bius Pangururan yang disebut Sitolu Hae Horbo adalah :
  1. Naibaho
  2. Sitanggang
  3. Simbolon
Dari marga tanah ini terbentuk Raja partali dari cabang tiap – tiap marga atau marga pendatang yang masuk bagian dalam marga Partano Golat , misalnya :
  1. Raja Partali dari Naibaho : Siahaan, Hutaparik, Sitangkaraen, Sidauruk, dan Siagian.
  2. Raja Partali dari Sitanggang : Sigalingging, Malau, dan Sinurat.
  3. Raja Partali dari Simbolon : Tamba, Nadeak, dan Silalahi.
Dari susunan diatas dapat dilihat bahwa kedudukan marga Silalahi di Bius Pangururan adalah rendah, hanya sebagai Raja Partali dari Simbolon, karena sebagai marga pendatang. 

SILALAHI RAJA ADALAH HOAX (NGAWUR)
Aksi walk-out dan pernyataan kelompok Silalahiraja sebagai utusan dari Pangururan dan Tolping dalam MUBES-2 Pomparan Raja Silahi Sabungan se-Indonesia 1968 di Silalahi Nabolak, dianggap ngawur dan mengada-ada. Dari Pangururan misalnya bersikukuh menyuarakan bahwa Ompu Lahi Sabungan adalah Raja Silahi Sabungan, padahal dalam tarombo di Silalahi Nabolak ( sebagai mana telah ditulis diatas ) bahwa Ompu Lahi Sabungan adalah SIBURSOK RAJA keturunan (anak) Debang Raja dari Silalahi Nabolak. Demikian halnya dengan Silalahi Raja Tolping adalah keturunan Silalahi dari Pangururan, keturunan ( putra ) dari Partada , putra Sibursok Raja ( Ompu Lahi Sabungan ), Putra Debangraja di Silalahi Nabolak.

SIPAYUNG DALAM TAROMBO

Sipayung Hoga, note :
Berawal dari Tarombo Raja Silahi Sabungan di Huta Silalahi Nabolak ( sekarang otonomi Kab.Dairi ) , menegaskan bahwa Raja Silahi Sabungan memiliki keturunan yang disebut “ 8 Raja Turpuk “, yaitu : Lohoraja, Tungkirraja, Sondiraja, Butarraja, Dabaribaraja, Debangraja dan Baturaja. Kemudian Tambunraja, putra Raja Silahi Sabungan dari Sinailing boru Nairasaon (Manurung) dari Sibisa atau yang dikenal dengan Raja Tambun.

Dari Tungkirraja keturunannya kemudian memakai marga Situngkir. Anak Tungkir Raja adalah Sibagasan, Sipakpahan dan Sipangkar, dengan marga Situngkir. Keturunan Sibagasan kemudian merantau ke Luat Parbaba, di Samosir. Di Parbaba , keturunan Sibagasan (marga Situngkir ) memiliki anak yaitu Sipangkar dan Sipayung, yang kemudian memakai ini sebagai marga keturunannya, yaitu marga : Sipangkar dan Sipayung.

Dari Lumban Sipayung ( asal Sipayung ) , Parbaba Samosir, keturunan Sipayung kemudian merantau keluar Samosir, ke Huta Soping, sebuah teritori Simalungun, hampir berbatasan dengan teritori Tanak Karo. Jauh sebelum datangnya kolonialisme Belanda yang memberi nama SIMALUNGUN, pada perkembangannya, keturunan Sipayung menyebar ke sekitar Huta Soping dan kemudian ke merambah ke Haranggaol, Purba, Saribudolok , Marubun (jahe-jahe), Nagasaribu dan ke Tanah Karo. Saya pernah membaca tulisan Kerajaan Purba Simalungun yang kemudian mengangkat marga Sipayung sebagai Panglima Goraha ( kepala pasukan kerajaan ) di kerajaan Purba karena kesaktiaanya. Sang Panglima kemudian dikawinkan dengan parboruon Kerajaan sehingga Sipayung menjadi Boru di Kerajaan Purba ( waktu itu belum ada istilah Simalungun, tetapi Raja Maroppat, sebutan untuk afiliasi Kerajaan Nagur, Kerajaan Raya, Kerajaan Purba dan Kerajaan Batagoiu / Tanoh Djaua – yang kemudian oleh kolonial Belanda dilebur menjadi SIMALUNGUN). Dari kisah ini kemudian kehadiran marga Sipayung di Kerajaan Purba diakui dan dianggap sebagai bagian dari Kerjaaan jauh sebelum terbentuknya teritori kolonial (residen) Simalungun.

Sipayung di Dolog Silou / Silou Kahean / Serdang
Kisah lain dari Simalungun Kahean ke jahe-jahe, dari Marubun , Bangun purba, Dolok Morawa, Nagoridolok, Deli Serdang-Bedagai, marga Sipayung kemudian mengikat perjanjian (padan) dengan marga Sinaga , agar Sipayung dapat tinggal disana. Di Simalungun pada jaman itu tidak boleh ditinggali oleh orang-orang asing (marga dari suku-suku lain). Dalam perjanjian sumpah (padan) antara marga Sinaga dan Sipayung merupakan satu kesatuan dan diharamkan untuk saling kawin-mengawini ( sampai sekarang ini, perjanjian ini masih berlaku dibeberapa daerah di Simalungun Kahean yang berbatasan dengan Serdang). Dengan demikian , sejak kesepakan perjanjian itu, keberadaan marga Sipayung di Simalungun tidak dipermasalahkan lagi oleh marga-marga asli di Simalungun. Bahkan dikemudian hari, disinyalir , keturunan Silahi Sabungan yang merantau ke Simalungun (seperti Sihaloho, Silalahi, Sigiro , dll) kemudian memakai marga Sipayung.

Sipayung di Raya
Keturunan marga Sipayung telah diterima Simalungun. Bahkan di daerah Raya Kahean, didapati sebuah perkampungan yang disebut Huta Payung, dimana kampung tersebut hanya dihuni (mayoritas) marga Sipayung. Meski secara tarikh tidak ada fakta yang jelas sejak kapan keberadaan marga Sipayung bermukim disana, yang jelas marga Sipayung sejak lama sudah eksis di Simalungun. Itu sebabnya, marga Sipayung saat ini juga masih banyak didapati sebagai tetua-tetua (sesepuh) kampung ataupun adat di Simalungun. Sayangnya, para keturunan Sipayung di Simalungun tidak berhubungan lagi dengan kerabatnya di Parbaba , Samosir atau juga Huta Soping, sehingga antara Sipayung di Samosir dan Simalungun tidak ada kontak lagi. Otomatis, perjanjian Sipayung di Simalungun tidak serta merta diketahui / diikuti oleh Sipayung yang telah turun-temurun hidup di Simalungun. Sipayung telah menyebar ke seluruh wilayah Simalungun , bahkan lebih dekat lagi sebagai bagian dari Simalungun.

Pra-revolusi sosial Sumatera Timur - 1946
Pada masa kolonialisme Belanda, jalan darat antara Balige-Pematang Siantar pun dibuka. Belanda membangun Simalungun sebagai sentra pertanian modern. Eksodusan marga-marga dari Toba Holbung dan Karo di Simalungun yang sebelumnya hanya untuk bekerja (kuli kolonial), namun akhirnya mengakibatkan pengambilalihan tanah-tanah rakyat Simalungun oleh para pendatang dan hal ini sudah dianggap sangat membahayakan masyarakat Simalungun waktu itu. Maka raja Maropat di Simalungun ( yaitu Raja : Raya, Siantar, Tanohjawa dan Purba ) mengadakan Harungguan (rapat besar empat raja) yang kemudian mengeluarkan ultimatum : “ haya ada empat marga yang boleh memiliki tanah-tanah di Simalungun, sedangkan marga-marga lain ( selain : Damanik, Purba, Saragih, Sinaga ) hanya sebagai pemakai atau pengusaha dan harus tunduk dengat aturan-aturan kerajaan Simalungun. Kondisi ini sempat mengakibatkan situasi yang mencekam di Simalungun , karena banyak terjadi pengusiran bahkan pembunuhan suku-suku pendatang di Simalungun.

Kondisi ini sangat berbeda dengan marga pendatang seperti Sipayung, karena marga Sipayung jauh sebelumnnya telah diterima dan memiliki perjanjian (padan) dengan marga Sinaga. Alhasil, konon banyak marga-marga keturunan Silahi Sabungan , seperti marga : Sihaloho, Situngkir, Silalahi dan lain-lain , kemudian mengakuisisi Sipayung dengan mengganti marga mereka menjadi Sipayung. Itu sebabnya kemudian di Simalungun ada suatu kebiasaan , jika seseorang bertanya ; “ Sipayung apa ?” , kemudian dijawab : “ Sipayung Silalahi, Sipayung Sihaloho, Sipayung Sinurat , dan sebagainya”.

Pasca Revolusi Sosial di Sumatera Timur -1946
Para Penguasa di Simalungun (Raja, Tuan) dan kerajaan-kerajaan di Simalungun dibumi hanguskan oleh para pemberontak (revolusioner) pro-kemerdekaan yang menuntut sistem kerajaan (feodalisme) dihapuskan di Sumatera Timur dan segera menjadikan sistem pemerintahan Negara Sumatera Timur. Hanya dalam waktu semalam, kebiadaban itu terjadi. Beberapa kerajaan dan keluarga kerjaaan , keluarga Raja dan Tuan-tuan di Simalungun lenyap diculik dan dibunuh. Pasca revolusi sosial, kemudian marga-marga pendatang yang sempat berafiliasi dengan marga-marga Simalungun kemudian memisahkan diri lagi dan kembali kepada klan marga-marga aslinya. Demikian halnya dengan marga-marga Sihaloho, Situngkir, Sinurat. Namun tidak sedikit pula yang tetap mempertahankan marga Sipayung sebagai marga keturunannya dan sampai sekarang ini keberadaan Sipayung di Simalungun sudah tidak ada bedanya sebagaimana keberadaan marga Damanik, Purba, Saragih dan Sinaga di Simalungun. Oleh karena itu , bukan hal yang aneh jika saat ini ada marga Sipayung yang menyebutkan bahwa mereka adalah Sipayung Sihaloho, Sinurat, Situngkir, Silalahi atau sebagainya, Karena kelamnya masa lalu tersebut, sehingga marga-marga ini harus menggati marga mereka. Meski pada dasarnya mereka adalah satu keturunan , dari Silahi Sabungan. Meski sangat disayangkan , belakangan diberbagai tempat seringkali terjadi pelecehan atau cemoohan yang mengatakan Sipayung yang berasal Simalungun sebagai "dalle" atau yang tidak mengerti asal-usul. Tetapi ini adalah tantangan untuk kita marga Sipayung yang berasal dari Simalungun saat ini.

Sipayung : Pomparan Raja Silahi Sabungan
Hanya saat ini , masih banyak marga-marga Sipayung di Simalungun tidak begitu jelas mengetahui akan kisah ini sehingga belakangan ini keturunan Sipayung - bin Situngkir - kemudian enggan menerima keberadaan mereka di parsadaan Pomparan Ompu Raja Silahi Sabungan karena memang mereka telah dilahirkan oleh Simalungun dan menjadi bagian dari darah-daging Simalungun. Umumnya orang Simalungun tidak mengakui bahwa Sipayung sebagai marga Simalungun, hanya di-Simalungun-kan. Jadi tidak akan adan kampung/tanah ulayat keturunan marga Sipayung di Simalungun, tetapi di Silalahi Nabolak via Situngkir. Horas, Diateitupa, Mauliate.

SILAHI SABUNGAN , RAJA SILALAHI NABOLAK - DAIRI



SILAHI SABUNGAN , salah seorang putra Sorbani Banua lahir dan besar Lumban Gorat Balige (Toba) dan tinggal Silalahi Nabolak (Dairi) sampai pada akhir hayatnya. Meski ia menetap di Dairi, Silahi Sabungan adalah keturunan Toba, seperti Sibagot nipohan, kakaknya. Silahi Sabungan terkenal seorang “Datu Bolon“ dan termansyur. Setelah mengadakan Horja Bius di Silalahi Nabolak, untuk menetapkan tanah kepunyaannya kepada 8 keturunanya dan Silahi Sabungan sebagai Raja Bius. Silahi Sabungan kemudian panggil dengan Raja Silahi Sabungan.

Silahi Sabungan memiliki keturunan yang banyak dan sebagai Raja (Kepala Kaum) ia telah menetapkan tanah miliknya untuk semua keturunannya.

HORJA BIUS SILALAHI NABOLAK
Horja Bius adalah perhelatan sosial tertinggi dalam kultur suku Toba. Horja Bius hanya dilakukan oleh orang yang memiliki martabat Status sosial, kapasitas dan intregitas. Horja Bius Silalahi Nabolak menggambarkan posisi Raja Silahi Sabungan di Silalahi Nabolak, sebagai sipungka huta sekaligus penguasa wilayah Silalahi Nabolak. Meski dalam masa kolonialis Belanda mewariskan admistratif bahwa Silalahi Nabolak masuk dalam teritori Dairi ( sekarang menjadi Kec. Silahi Sabungan, Kab. Dairi ), bukan berarti bahwa Raja Silahi Sabungan sebagai orang Pakpak Dairi atau bukan orang yang berasal dari Suku Toba. Sebagaimana kakak-adik sekandungnya, Sibagotni pohan, Siraja Oloan, Sipaittua, yang terlahir dan besar di Toba, Balige.
Sebagai Raja Bius yang bermartabat , Raja Silahi Sabungan telah mewariskan kultur budaya dan tanah-air bagi keturunanya. Sehingga keturunannya memiliki martabat, garis keturunan dan negeri asal yang jelas. Hal ini adalah kebiasaan yang dilakukan marga-marga lain suku Toba.

MUAL SIPAULAK HOSA (TURI-TURIAN)
Salah satu dari turi-turian itu adalah Kisah terjadinya sumber air (pancuran) Mual Sipaulak Hosa di lereng bukit Silalahi Nabolak (Dairi). Pada suatu hari Silahi Sabungan pergi bersama istrinya, Pinggan Matio boru Padang Batangari, ke mertuanya di huta (kampung) Balla, Pakpak.. Sewaktu melewati lereng bukit, isterinya yang sudah hamil tua mulai merasa dahaga. Rasa penat mulai terasa, sehingga mereka harus melepas lelah dilereng bukit. Dengan menahan rasa haus dan lelah, Pinggan Matio bersenandung lirih : “ Loja ma boruadi mamboan tua sian mulajadi, mauas ma tolonan ndang adong mangubati. Jonok do berengon sillumalan na so dundungonki. Boha do parsahatku tu huta ni damang parsinuan, dainang pangintubu i.”

Mendengar senandung istrinya, Silahi Sabungan lalu mengambil Siorlombing (tombak), lalu berdoa kepada Mulajadi Nabolon agar diberikan air. Kemudian Silahi Sabungan menancapkan Siorlombing (tombak) ke dinding batu tebing dan air menyembur dengan deras. Pinggan Matio lalu diminum sepuas-puasnya. Sampai saat ini, air itu dinamai ”Mual Sipaulak hosa” yang terdapat dilereng bukit Silalahi Nabolak.

Raja Silahi Sabungan memiliki 2 istri dan 8 putra dan 1 putri. Namun putrinya, bernama Deang Namora, konon mati muda dan tidak sempat memiliki keturunan. Sementara putra-putra Silahi Sabungan juga dikenal dengan sebutan 8 Raja Turpuk. Cikal bakal keseluruhan marga-marga keturunan Raja Silahi Sabungan menginduk kepada 8 Raja Turpuk ini, berikut ini urutannya :

1] LOHO RAJA (KETURUNANNYA MEMAKAI MARGA SIHALOHO)
Melihat kondisi kehamilan Pingganmatio, Raja Parultep (ayah Pinggan Matio) lalu menyarankan supaya putrinya tinggal di Balla sampai kelahiran anaknya.Tiba waktunya melahirkan, Pinggan Matio melahirkan seorang anak Laki – laki. Silahi Sabungan merasa gembira dan bersyukur karena dia sudah menjadi seorang ayah. Begitu juga Raja Parultep merasa berbahagia karena kelahiran cucu dari putrinya Pinggan Matio. Raja Parultep mengundang raja-raja kampung dan penduduk Balla untuk merayakan kelahiran cucunya. Kemudian Raja Parultep memberi nama cucunya si Loho, artinya lega. Kemudian dikenal dengan Loho Raja. Di Silalahi Nabolak, keturunannya kemudian memakai marga Sihaloho atau Haloho.

2] TUNGKIR RAJA (KETURUNANYA MEMAKAI MARGA SITUNGKIR, SIPANGKAR DAN SIPAYUNG )
Suatu ketika, Raja Parultep merasa kangen dengan putri dan cucunya. Raja Parultep kemudian pergi ke kampung Lahi (sekarang menjadi Silalahi Nabolak) untuk melihat (tungkir=tingkir). Setibanya disana, tiba waktunya Pinggan Matio melahirkan putranya yang ke dua. Raja Parultep kemudian memberinya nama Tungkir Raja. Di Silalahi Nabolak, keturunan Tungkir Raja kemudian memekai marga Situngkir. Namun keturunan Situngkir di Parbaba Samosir kemudian menurunkan marga keturunannya , yaitu marga Sipangkar dan Sipayung. Keturunan Sipayung yang merantau ke Simalungun tetap memakai marga Sipayung sebagai marga. Tetapi berbeda di Tanah Karo, konon keturunan Sipangkar dan Sipayung kemudian berafiliasi dengan merga Sembiring, yaitu Sembiring Sinupangkar dan Sinupayung. Tetapi kemudian ada juga keturunan Silalahi dan Sihaloho yang kemudian menjadi Sembiring Sinulaki dan Keloko, Depari, dll.

3] SONDI RAJA (KETURUNANNYA MEMAKAI MARGA RUMA SONDI, RUMASINGAP, SILALAHI, SIHALOHO, SINABUTAR, SINABANG, SINAGIRO, NAIBORHU, NADAPDAP, SINURAT, DOLOK SARIBU )
Pada suatu ketika Silahi Sabungan sedang membuat tempat tidur dari kayu bulat (sondi). Tiba waktunya Pinggan Matio melahirkan putranya yang ke tiga. Silahi Sabungan kemudian memberinya nama Sondi Raja. Dari keturunan Sondi Raja terlahir marga Rumasondi dan Rumasingap. Dari keturunan Rumasondi adalah Bolon Raja dan Raja Parmahan alias Raja Bunga-bunga. Dari keturunanan Raja Parmahan yang kemudian menurunkan marga Silalahi di Hinalang Silalahi , Balige. Dari Keturunan Silalahi kemudian menurunkan marga : Sihaloho, Sinagiro, Sinabang, Sinabutar, Naiborhu, Sinurat, Nadapdap dan Dolok Saribu ( link: Punguan Sinurat ). Umumnya, ada juga yang kemudian diantara mereka memakai marga Silalahi.

4] BUTAR RAJA ( KETURUNANNYA MEMAKAI MARGA SIDABUTAR )
Kemudian Pinggan Matio melahirkan anak kelima, seorang anak laki – laki. Pada waktu kelahiran anak kelima ini, raja Silahisabungan baru mengganti atap rumah yang terbuat dari kayu butar. Oleh karena itu mereka membuat nama anak kelima ini Butar Raja. Dari keturunanan Butar Raja ialah Rima Bolon, Ruma Biak dan Ruma Tungkup. Namun diantara keturunannya sekarang ini juga ada yang memamakai marga Sidabutar atau bahkan memakai Silalahi.

5] BARIBA RAJA ( KETURUNANNYA MEMAKAI MARGA SIDABARIBA)
Pada waktu kelahiran anak keenam, Raja Silahi Sabungan sedang berada di Parbaba Samosir untuk mencari tanah kosong menjadi milik keturunannya kelak. Tanah itu kemudian disebut “ Luat Parbaba.” Setelah Raja Silahi Sabungan kembali dari seberang (bariba) dijumpainya telah lahir seorang anak laki-laki. Karena ia baru tiba dari Bariba (seberang) maka diberilah nama anak itu Bariba Raja. Keturunanan Sidabariba atau Sinabariba adalah Lumban Toruan, Lumban Tonga-tonga dan Lumban Raja. Saat ini, keturunan Bariba Raja memakai marga Sidabariba, dan bahakan ada juga yang memakai marga Silalahi.

6] DEBANG RAJA ( KETURUNANYA MEMAKAI MARGA SIDEBANG )
Kelahiran anak Raja Silahisabungan yang ketujuh ditandai dengan terjadinya peristiwa alam. Pada saat Pinggan Matio melahirkan, turun hujan lebat sehingga terjadi tenah longsor ( tano bongbong ) di Silalahi Nabolak. Karena Tano Bongbong ( Tanah Longsor ) itu mengejutkan Raja Silahi Sabungan dan Pinggan Matio, maka mereka membuat nama anak laki – laki yang baru lahir itu Debong Raja = Debang Raja. Keturunannya ialah Siari, Sitaon, Sisidung yang memakai marga Sidebang, saat ini banyak juga diantaranya yang memakai marga Silalahi.

7] BATU RAJA (KETURUNANNYA MEMAKAI MARGA PINTUBATU, SIGIRO DAN SILALAHI )
Putra Raja Silahisabungan yang ke-7 bernama Batu Raja atau Pintu Batu. Pada waktu kelahiran anak bungsu Pinggan Matio ini, Raja Silahi Sabungan sedang bersemedi di Gua batu di lereng bukit Silalahi. Saat melahirkan itu, Pinggan Matio merasa lelah karena faktor usia, sehingga mengerang minta bantuan. Loho Raja yang melihat ibunya mengerang pergi mamanggil Raja Silahi Sabungan. Raja Silahi Sabungan buat obat salusu ( obat penambah tenaga ), Boru Pinggan Matio melahirkan seorang anak laki – laki. Karena Silahi Sabungan dipanggil dari Gua Batu maka diberilah nama anak itu Batu Raja atau Pintu Batu. Dengan kelahiran Batu Raja maka anak Raja Silahi Sabungan dari Pinggan Matio boru Padang Batanghari berjumlah delapan orang, tujuh orang anak laki-laki dan seorang puteri. Keturunan Batu Raja (Pintu Batu) ialah Lumban Pea, Huta Balian dan Sigiro. Umumnya mereka memakai marga Pintu Batu atau Sigiro dan bahkan memakai marga Silalahi.

8] TAMBUN RAJA ( KETURUNANNYA MEMAKAI MARGA TAMBUN DAN TAMBUNAN )
Konon turu-turiannya, Raja Silahi Sabungan tengah melanglangbuana ke negeri Sibisa, negeri Raja Magarerak ( yang turunannya kemudian memakai marga MANURUNG, SITORUS, BUTAR-BUTAR, PANJAITAN ). Raja Mangarerak tengah gundah kerena putri tersayangnya tengah mengalami sakit teluh yang sedemikian parah. Ketika Raja Silahi Sabungan datang, ia kemudian diminta mengobati Sang Putri Raja Mangarerak. Raja Silahi Sabungan bersedia dengan satu syarat, jika kelak sembuh maka raja Silahi Sabungan akan mengawininya sebagai istri. Tanpa pikir panjang, Raja Mangarerak menyetujuinya. Raja Silahi Sabungan ternyata berhasil menyembuhkan Sang Putri, sesuai kesepakatan maka Raja Silahi Sabungan kemudian memperistri Sang Putri, meski sebenarnya telah terpaut usia yang cukup jauh.

Konon juga, Sang Putri memanggil Raja Silai Sabungan dengan sebutan Amangboru, hal ini dikarenakan kessenjangan usia tersebut. Ketika Sang Putri tengah mengandung, prahara terjadi dan Raja Mangarerak meminta supaya Raja Silahi Sabungan segera meninggalkan negeri Sibisa. Dengan berat hati, Raja Silahi Sabungan menyepakati namun menunggu sampai Sang Putri melahirkan. Setelah melahirkan, Raja Silahi Sabungan kemudian memboyong sang bayi dan pergi meninggalkan Sibisa, kembali ke Silalahi Nabolak.

Di Silalahi Nabolak, sang anak kemudian diberi nama Tambun Raja. Saat menjelang dewasa, Tambun Raja kemudian kembali menemui Ibu yang melahirkannya di Sibisa. Dengan tujuan dan niat baik, Raja Silahi Sabungan kemudian membuat ikatan (padan) antara Tambun Raja dan 7 anak-anak Silahi Sabungan lainnya yang dikenal dengan PODA SAGU MARLANGAN. Tujuan Raja Silahi Sabungan inginkan supaya kelak diantara keturunan mereka supaya saling mengetahui bahwa mereka adalah sedarah, supaya kelak mereka saling menghormati dan tidak bisa untuk saling mengawini, sebagai mana kultur sosial suku Toba umumnya.

TAMBUN RAJA ADALAH  RAJA TAMBUN
Di Sibisa , Tamburaja kemudian menikahi putri Raja Manurung. Tambunraja kemudian diberikan lahan untuk berdiam di Sibisa, sebagai Raja Boru di Bius Sibisa. Lain padang , lain belalang. Tambunraja kemudian dikenal dengan sebutan Raja Tambun, sebagai mana kebiasaan di Sibisa ( Toba Holbung ). Bahkan keturunannya , Tambun dan Tambunan juga mengenalnya dengan sebutan Raja Tambun. Namun di Silalahi Nabolak, kakak-kakakya tetap memperthanakan sebutan Tambunraja, sama seperti Raja Tupuk lainnya. Antara sebutan Tamburaja atau Raja Tambun adalah person yang sama. Ini sangat penting bagi kita keturunan Raja Silahi Sabungan, terutama keturunan Tambun Raja atau Raja Tambun, yaitu marga Tambun dan Tambunan. Hanya memang, dampak dari keterpisahan ini, sejak Tambunraja menetap di sibisa, hubungan mereka antara Tambunraja alias Raja Tambun seolah terputus dengan kakak-kakanya di Silalahi Nabolak. Keturunan Raja Tambun di Sibisa tidak terlalu mengenal keturunanan raja Silahi sabungan lainnya dari Silalahi Nabolak, begitu juga sebaliknya. Beruntung dengan adanya Poda Sagu-sagu Marlangan, yang mengukuhkan kekerabatan darah 8 Raja Turpuk, antara Silalahi Nabolak dan Sibisa.


Horas.

Selasa, 12 Januari 2010

FAKTA KEBERADAAN MARGA SILALAHI DI SAMOSIR

Keberadaan marga Silalahi yang tinggal di Tolping dan Pangururan sebagai yang terdapat dalam turi-turian Raja Silahi Sabungan di Silalahi Nabolak adalah :

SIRAJA TOLPING , adalah keturunan Toguraja Sihaloho atau keturunan Partada anak Debangraja (Ompu Sinabang).
SIBURSOK RAJA , adalah anak Debangraja dari Silalahi Nabolak yang memilih namanya Ompu Sinabang atau kemudian bernama Ompu Lahisabungan, yang dimakamkan di Pangururan.
SIRAJA BUNGA-BUNGA , adalah keturunan Sondiraja dari Silalahi Nabolak

Perlu ditambahkan bahwa menurut kebiasaan atau adat di Samosir, semua marga Silalahi selalu mengakui “ Bona Ni Pasogit “ Silalahi Nabolak. Hal ini membuktikan bahwa semua marga Silalahi yang tinggal di Pangururan atau Tolping juga berasal dari Silalahi Nabolak.

KEDUDUKAN MARGA SILALAHI DI BIUS PANGURURAN

Kedudukan marga Silalahi di Bius Pangururan adalah rendah, karena termasuk marga pendatang. Partano Golat atau penguasa / pemilik tanah adat ( Bius ) Pangururan yang disebut Sitolu Hae Horbo adalah :

  • Marga Naibaho
  • Marga Sitanggang
  • Marga Simbolon

Dari marga tanah ini terbentuk Raja partali dari cabang tiap – tiap marga atau marga pendatang yang masuk bagian dalam marga Partano Golat , misalnya :

  1. Dari marga Naibaho, dibentuk Raja Partali Naibaho : Siahaan, Hutaparik, Sitangkaraen, Sidauruk, dan Siagian.
  2. Dari Marga Sitanggang, dibentuk Raja Partali : Sitanggang, Sigalingging, Malau, dan Sinurat.
  3. Dari Marga Simbolon, dibentuk Raja Partali Simbolon : Tamba, Nadeak, dan Silalahi.

Hubungan kekerabatan marga Silalahi dengan marga Simbolon tingkatanya adalah rendah karena marga Silalahi adalah Boru Natua-tua dari Simboluntua saja, artinya tidak semua marga Simbolon memiliki hubungan margelleng (marboru) kepada marga Silalahi di Bius Pangururan.

KEDUDUKAN MARGA SIHALOHO DI BIUS TOLPING
Kampung (huta) bius Tolping adalah:

  1. Lumban Sihaloho
  2. Lumban Sigiro
  3. Lumban Parnomangan
  4. Lumban Sidabutar
  5. Lumban Silalahi
  6. Lumban Dolok
  7. Lumban Barat
  8. Lumban Rihit
  9. Lumban Siallagan
  10. Lumban Siadang Aek
  11. Lumban Parhorasan
  12. Lumban Sinaborno
  13. Lumban Tonga–tonga
  14. Lumban Tinggi
  15. Huta Tolping-tolping
  16. Huta Siarsam Sada
  17. Huta Siarsam Dua
  18. Huta Siarsam Tolu
  19. Lumban Batu
  20. Sosor Galung

Aksi walk-out dan pernyataan kelompok Silalahi Raja sebagai utusan dari Pangururan dan Tolping dalam MUBES-2 Pomparan Raja Silahi Sabungan se-Indonesia 1968 di Silalahi Nabolak, dianggap ngawur dan mengada-ada. Dari Pangururan misalnya bersikukuh menyuarakan bahwa Ompu Lahi Sabungan adalah Raja Silahi Sabungan, padahal dalam tarombo di Silalahi Nabolak ( sebagai mana telah ditulis diatas ) bahwa Ompu Lahi Sabungan adalah SIBURSOK RAJA keturunan (anak) Debang Raja dari Silalahi Nabolak.

Rabu, 30 Desember 2009

Batak story

Marco Polo claims that the Battaks have been cannibals for a time extending at least as far back as the year 1290 ; and Sir T. Stamford Raffles, who was among them in 1820, found some of their laws to be very severe. http://en.wikisource.org/wiki/Page:Popular_Science_Monthly_Volume_50.djvu/50
In 1866 , Bickmore stories ...
Prof. Albert S. Bickmore was traveling in Sumatra, he saw not a little of these people, and he believed then that the place where their aboriginal civilization sprang up was very likely on the shores of that famous Sumatran lake, Lake Toba, and upon the neighboring plateau of Silindung. From this locality they gradually occupied an extensive domain in the in- terior, which was extended upon either side to the seacoast. Eventually, however, the Malays spread along the coast line, and thus confined the Battaks once more to the interior.
The origin of the Battas is doubtful
Battas or Dutch Battaks, the inhabitants of the formerly independent Batta country, in the central highlands of Sumatra, now for the most part subjugated to the Dutch government. The still independent area extends from 9 8 °-99° 35' E., and 2°-3° 25' S. North-east of Toba Lake dwell the Timor Batta [ Batak Timur = Simalungun now, red], and west of it the Pakpak [Dairi, red ], but on its north (in the mountains which border on the east coast residency) the Karo Batta [ Batak Karo , red ] form a special group, which, by its dialects and ethnological character, appears to be allied to the Gajus [ suku Gayo , red ] and Alias [suku Alas : red] occupying the interior of Achin [Aceh : red ].
The origin of the Battas is doubtful. It is not known whether they were settled in Sumatra before the Hindu period. Their language contains words of Sanskrit origin and others referable to Javanese, Malay and Tagal influence. Their domain has been doubtless much curtailed, and their absorption into the Achin and Malay population seems to have been long going on.

Battas are physically quite different from the Malay type
The Battas are undoubtedly of Malayan stock, and by most authorities are affiliated to that Indonesian pre-Malayan race which peopled the Indian Archipelago, expelling the aboriginal negritos, and in turn themselves submitting to the civilized Malays. In many points the Battas are physically quite different from the Malay type. The average height of the men is 5 ft. 4 in.[± 160-170 cm , red ]; of the women 4 ft. 8 in [± 130 – 140 cm , red ].
The Battas are dirty in their dress and dwellings and eat any kind of food
In general build they are rather thickset, with broad shoulders and fairly muscular limbs. The colour of the skin ranges from dark brown to a yellowish tint, the darkness apparently quite independent of climatic influences or distinction of race. The skulll is rather ovall than round. In marked contrast to the Malay type are the large, black, longshaped eyes, beneath heavy, black or dark brown eyebrows. The cheek-bones are somewhat prominent, but less so than among the Malays. The Battas are dirty in their dress and dwellings and eat any kind of food, though they live chiefly on rice. They are remarkable as a people who in many ways are cultured and possess a written language of their own, and yet are cannibals.
Battaks have long been notorious for the most revolting forms of cannibalism
The more civilized of them around Lake Toba are good agriculturists and stock-breeders, and understand iron-smelting. They weave and dye cotton, make jewellery and krisses which are often of exquisite workmanship, bake pottery, and build picturesque chalet-like houses of two storeys. They have an organized government, hereditary chiefs, popular assemblies, and a written civil and penal code. There is even an antiquated postal; system, the letter-boxes being the hollow tree trunks at crossroads. Yet in spite of this comparative culture the Battas have long been notorious for the most revolting forms of cannibalism.
( see: Memoirs of the Life, &c., of Sir Thomas Stamford Raffles, 1830.)
Battaks is mainly confined to a belief in three gods concept
The Battas are the only lettered people of the Indian Archipelago who are not Mahommedans. Their religion is mainly confined to a belief in evil spirits, but they recognize three gods, a Creator, a Preserver and a Destroyer, like a trinity suggestive of Hindu influence.
Up to the publication of Dr H. N. van der Tuuk's essay, Over schrift en uitspraak der Tobasche taal (1855), our knowledge of the Batta language was confined to lists of words more or less complete, chiefly to be found in W. Marsden's Miscellaneous Works, in F. W. Junghuhn's Battalander, and in the Tijdschrift van het Bataviaasch Genootschap, vol. iii. (1855). By his exhaustive works (Bataksch Leesboek, in 4 vols., 1861-1862; Batakschnederduitsch Woordenboek, 1861; Tobasche Spraakkunst, 1864-1867) van der Tuuk made the Batta language the most accessible of the various tongues spoken in Sumatra.
Batta is poor in general terms, but abounds in terms for special objects
According to him, it is nearest akin to the old Javanese and Tagal, but A. Schreiber (Die Battas in ihrem Verheiltnis zu den Malaien von Sumatra, 1874) endeavoured to prove its closer affinity with the Malay proper. Like most languages spoken by less civilized tribes, Batta is poor in general terms, but abounds in terms for special objects. The number of dialects is three, viz. the Toba, the Mandailing and the Dairi dialects; the first and second have again two subdivisions each.
The Battas further possess six peculiar or recondite modes of speech, such as the Hata Andung, or language of the wakes, and the Hata Poda or the soothsayer's language.
A fair acquaintance with reading and writing is very general among them. Battaks’s alphabet is said, with the Rejang and Lampong alphabets, to be of Indian origin.
The language is written on bark or bamboo staves from bottom to top, the lines being arranged from left to right. The literature consists chiefly in books on witchcraft, in stories, riddles, incantations, &c., and is mostly in prose, occasionally varied by verse.'
See also "Reisen nach dem Toba See," Petermanns Mitteil. (1883); Modigliani, Fra i Batacchi indipendenti (Rome, 1892); Neumann, "Het Paneen Bilastroomgebiad," Tydschr. Aardr. Gen., 1885-1887; Van Dijk in the same periodical (1890-1895); Wing Easton in the Jaarboek voor het Mynwezen, 1894; Niemann in the Encyclopaedia van Nederlandsch-Indie, under the heading Bataks, with very detailed bibliography; Baron J. v. Brenner, Besuch bei den Kannibalen Sumatras (Wurzburg, 1893); H. Breitenstein, 21 Jahre in Indien, Java, Sumatra (Leipzig, 1899-1900); G. P. Rouffaer, Die BatikKunst in niederlcindisch-Indien and ihre Geschichte (Haarlem, 1899).